Mengevaluasi Kenangan, Menyusun Masa Depan

hipwee-tumblr_mtfe62gkl51r9kkseo1_500

Jika kita menilik kalender hari ini, tersisa tiga belas hari lagi untuk menggantinya dengan kalender baru. Euforia menyambut tahun yang baru, rasanya tak lengkap tanpa resolusi. Maka tak heran, jika pada penghujung tahun, acara gosip di tv selalu saja hadir dengan berita yang sama. Para pesohor diminta bercerita mengenai resolusinya di tahun mendatang. Sebab begitulah kebiasaan kita, menjadikan desember sebagai momentum refleksi, mengevaluasi dan tak lupa menyusun rencana baru.

Sejujurnya, saya bukan tipikal orang yang selalu membuat resolusi sebelum tahun baru. Saya justru kerap menyusun resolusi pada moment pertambahan usia. Malam pergantian tahun, menjadi waktu untuk mengevaluasi resolusi lama sebelum membuat lagi di sebelas hari kemudian. Tapi, malam ini kebiasaan itu, berubah. Selain karena diminta oleh kak Gunawan Primasatya  (yang malam ini sudah berbaik hati, berbagi pengalamannya di 1st gathering Sahabat Beasiswa Chapter Palu), juga karena saya berharap, resolusi dan mimpi-mimpi saya di tahun mendatang akan lebih cepat terwujud, hehehehhehe (aamiin).

Malam ini, diakhir 1st gathering Sahabat Beasiswa Chapter Palu, kak Gunawan memberi kami beberapa poin pertanyaan dan satu perintah.

  1. Apa pencapaian terbesarmu di tahun 2016 ini?
  2. Apa pembelajaran dari proses pencapaian tersebut?
  3. Deskripsikan nilai-nilai dari pencapaian tersebut!
  4. Siapa orang yang selalu mendukungmu?
  5. Apa resolusi 2017-mu?

Empat pertanyaan dan satu perintah diatas, mungkin lebih enak dijawab melalui cerita. So, Let’s read it 😀

Hampir setiap tahun, saya menulis resolusi. Pernah suatu waktu, saya menulis lebih dari 100 harapan,mengikuti saran seorang senior. 100 harapan itu nyatanya hanya meluluskan 100. Sebab saya hanya menulis tanpa tahu, kemana arah semua harapan itu.

Kemudian, pada tahun berikutnya, saya berusaha membenahi niat dan membuat resolusi baru dengan membaginya dalam tiga tahap. Tahap pertama adalah resolusi jangka panjang. Kedua, resolusi jangka menengah, dan terakhir jangka pendek.

Resolusi jangka panjang  Menjadi seorang dosen sekaligus social worker. Profesi yang menurut pertimbangan pribadi, adalah pekerjaan yang sesuai dengan passion saya.

Kedua adalah resolusi jangka menengah. Resolusi inilah yang akan berubah setiap tahunnya dan menjadi poin saya mengukur sejauh mana jarak saya dengan impian itu. Saya sangat sadar, bahwa untuk mencapai resolusi jangka panjang, saya harus punya ilmu agar mampu menjadi pribadi yang diimpikan. Maka, resolusi jangka menengah diisi dengan beberapa poin. Pertama, mendapatkan beasiswa S2 luar negeri (dilain kesempatan, akan saya jelaskan mengapa saya memilih ingin belajar diluar negeri). Kedua, memiliki social project.

Terakhir, resolusi jangka pendek. Pada tahap ini, saya berusaha membuat jalan untuk mendukung resolusi jangka menengah. Pertama, saya harus belajar bahasa inggris. Saya memilih pare dengan pertimbangan akan lebih efektif dan efisien waktu ketika belajar dilingkungan yang mendukung. Kedua, mencari daftar beasiswa dan universitas yang menyediakan jurusan yang saya inginkan. Ketiga, mengikuti tarbiyah agama. Keempat, mendirikan rumah baca. Kelima, selalu berdoa dan meminta restu orang tua. Begitulah resolusi 2016 versi saya.

2016, sejujurnya adalah tahun yang meninggalkan kesan manis. Satu persatu, mimpi-mimpi jangka pendek yang dulu dicatat untuk tahun 2016, diijabah Allah SWT.

Penghujung januari 2016, menjadi pembuka yang manis. Allah memberi hadiah perjalanan belajar ke Pare selama 4 bulan lebih. Selanjutnya disusul dengan pencapaian lainnya dan pencapaian yang belum saya rencanakan untuk tahun 2016.

Pencapaian tak terencana itu, contohnya diberi kesempatan bergabung dalam komunitas-komunitas kebaikan seperti Sahabat Beasiswa Chapter Palu, kesempatan berbagi melalui seleksi nasional di kelas Inspirasi, yang belakangan saya sadari, ternyata semua aktivitas tersebut memiliki keterkaitan satu sama lain. Terakhir, menjelang akhir tahun 2016, Allah SWT memberi tiket perjalanan belajar Perfilman pada sebuah rumah produksi di Jakarta, yakni bedasinema pictures melalui komunitas dakwah Creative Moslem Network Sulteng.   Fabiayyi aalaaa irabbikumaa tukadziibaan ( Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang  kamu dustakan?).

Jika kemudian ditanya, manakah pencapaian terbesar dari semua itu? saya tidak tahu harus memilih yang mana. Sebab, seperti yang saya tuliskan sebelumnya, semua pencapaian itu memiliki keterkaitan satu sama lain, yang dari kacamata saya pribadi, mengarah pada satu titik. Meskipun ada beberapa pencapaian yang sebenarnya tak pernah saya pikirkan atau tulis sebagai resolusi 2016. Semuanya muncul dan saling melengkapi. Seperti puzzle yang mulai tersusun dan mengarahkan saya menuju mimpi yang sebenarnya.

Pencapaian, kedengarannya selalu manis. Terlebih ketika itu adalah pencapaian yang menurut kita luar biasa. Tapi yang namanya pencapaian, tentu saja dibaliknya ada usaha atau ikhtiar yang kita lakukan untuk mencapainya. Meskipun pencapaian saya di tahun ini belum sehebat kawan-kawan yang lain, tapi saya sangat bersyukur bisa diberi kesempatan menikmati pencapaian tersebut.

Contohnya, belajar bahasa ke pare. Saya tidak serta merta mendapatkannya dengan mudah. Saya menginginkan kesempatan belajar itu, dua tahun sebelum saya lulus dari bangku kuliah. Tepatnya tahun 2013. Saya selalu berharap kesempatan itu  segera datang. Namun, rupanya Allah SWT menguji saya agar lebih bersabar lagi. Berkali-kali saya gagal berangkat. Pertama, tentu saja karena alasan tugas akhir yang belum rampung. Kemudian setelah lulus, saya tidak lantas bisa segera berangkat. Tabungan saya habis untuk keperluan lain. Maka saya diuji lagi. Alasan tertundanya berangkat ke pare, pun datang silih berganti.

Tujuh bulan lebih, saya harus bersabar. Ujiannya bukan saja tentang waktu, tapi biaya dan izin orang tua. Begitu inginnya saya bisa belajar bahasa inggris di pare, saya harus mampu menjelaskan  dan meyakinkan orang tua terkait alasan saya ingin belajar, sampai sejauh itu. Saya bahkan menyebar cv dan lamaran kerja,  minimarket kecil pun menjadi target kala itu. Pikir saya, yang penting dapat biaya untuk ke pare. Namun, Alhamdulillah setelah semua ikhtiar itu dilakukan, Allah justru memberi hadiah yang tidak disangka. Saya mendapatkan dukungan dari orang tua, tanpa perlu menunggu tabungan dan kerja terlebih dahulu. Allah menitipkan rezeky itu melalui MamakBapak. Tapi tunggu dulu, ujiannya belum selesai rupanya. Bahkan ketika tiket sudah ditangan, Allah SWT masih menguji saya. Dua jam setelah membeli tiket menuju surabaya, saya mendapatkan panggilan kerja di sebuah perbankan nasional dengan tawaran gaji yang tentu saja menggiurkan. Namun, ketika mengingat tujuan dan impian besar dalam resolusi jangka panjang dan menengah, saya melepas kesempatan menggiurkan tersebut. Saya memilih pare.

Apa nilai-nilai yang kemudian muncul dari cerita diatas? Seyogyanya, teman-temanlah yang mampu menangkapnya sendiri. Saya hanya ingin berbagi pesan  dan semangat ke teman-teman, sebagaimana kedua orang tua saya selalu mendukung dan mengingatkan, bahwa “Mimpi yang besar itu, tidak diraih dalam sekejap. Kita perlu usaha yang gigih dan sabar untuk bisa menikmatinya.” Because every success need an effort.

Oke, sekarang kita lupakan cerita tentang 2016. Kita move on ke resolusi 2017.

2017, saya berharap Insya Allah tetap menjadi tahun yang akan meninggalkan kesan manis. Ada beberapa hal yang ingin saya lakukan ditahun mendatang sekaligus memperbaharui resolusi jangka menengah dan jangka pendek.

Untuk resolusi jangka menengah, poin pertama akan tetap sama, hanya saja akan lebih spesifik doanya. Poin kedua berganti menjadi MENIKAH (sudahlah mblo,,, bagian ini jangan dijadikan bullyan yaak :v hehehehe dilain kesempatan akan saya jelaskan, mengapa harus menikah dan apa kaitannya dengan resolusi jangka panjangku). Sedangkan untuk jangka pendek, Pertama mengikuti  tes Toefl dengan harapan mendapat skor yang cukup untuk melamar beasiswa AAS. Kedua, melamar beasiswa AAS di bulan maret. Ketiga, berangkat ke Pare belajar writing dan IELTS. Keempat, tes IELTS. Kelima, kembali mengelolah rumah baca.

Guys, tanpa sadar, malam kian larut berubah menjadi dini hari. Sebelum berlabuh pada bantal, kiranya maafkan saya jika ada bahasa yang tak apik dan terkesan berlebihan. Seyogyanya, tulisan ini dirangkai bukan untuk menggurui siapapun. Hanya sebagai pengingat diri saya pribadi, bahwa saya belumlah menjadi seseorang yang mampu menginspirasi orang lain. Pencapaian saya masih sangat kecil. Deretan pencapaian yang ditulis diatas, hanyalah yang terbesar dari pencapaian-pencapaian kecil milik anak rantau ini.

Selamat pagi, selamat membaca, dan semoga para pemimpi seperti kita, adalah pemimpi yang sadar, untuk siapa mimpinya.

Palu, 19 Desember 2016

Dapur Anandita

bawang

Waktu baru saja menenggelamkan dirinya pada malam, ketika telinga ini mulai memanas oleh pertanyaan klise yang katanya BELUM berujung. Ah, kurasa takkan pernah berujung. Bukankah ketika kita mampu menjawabnya, maka pertanyaan-pertanyaan yang sama klisenya, akan kembali dilayangkan. Tapi sebagai manusia biasa, kita selalu dipaksa untuk mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan konyol nan basi itu, pada setiap fase waktu.

Sungguh, tak bisakah orang-orang di dunia berhenti bertanya?.  Oh bukan, kurasa dunia memang tidak bertanya, tapi lebih kepada menyudutkan. Mereka yang rasa ingin tahunya selalu ingin dipuaskan, sepertinya ditakdirkan terlahir sebagai manusia dengan bakat penanya ulung, yang pertanyaan-pertanyaannya bahkan lebih sadis dari beberapa News Ancor pada program-program berita yang kerap kutonton. Menyudutkan dan mematikan.

Belum aku melupa, pada bagaimana rasanya tertekan oleh pertanyaan-pertanyaan sebelumnya. Lalu sekarang harus dihadapkan lagi pada pertanyaan yang sama menjengkelkannya.

Di sampingku, sepuluh jemari senja nampak masih kuat untuk sekedar mengiris sepuluh siung bawang merah dan bawang putih. Tapi mataku yang hanya menonton adegan kelincahan mengiris bawang, sudah tidak kuat menahan perihnya.

Bukan, bukan karena bawang-bawang itu, tapi pertanyaan dan nasihat-nasihat Si pengiris bawang, yang membuatku ingin menangis. Ia memang hanya mengiris bawang, tapi rasanya seperti ikut mengiris hatiku. Perih, sakit, berdarah-darah (oh, tidak! Aku bercanda, itu terlalu berlebihan).

Aku hanya merasa telingaku sedikit panas saja. Belum lagi ketika ia mulai mengait-ngaitkan usia dan keseriusanku mengejar cita-cita sebagai seorang Diplomat.

“Bisakah kau sedikit berpikir logis? Usiamu sudah mendekati 23. Kami saja sudah merasa ngeri dan was-was.” Aku masih diam menanggapinya.

“Kau tahu, peristiwa minggu lalu benar-benar membuat kami serasa ditampar.” Aku melirik seseorang yang duduk di depanku. Seseorang yang menjadi bagian dari “kami” pada kalimat Si pengiris bawang.

Seseorang yang juga sama senjanya dengan Si pengiris bawang, hanya mengedipkan mata, membalas pertanyaanku yang kuvisualkan dalam tatapan sedih. Ia mengisyaratkanku untuk diam. Tak perlu membantah apalagi melancarkan pembelaan yang tak ada guna.

Sebenarnya aku tidak bisa terima, dengan kalimat yang baru saja dilontarkan oleh Si pengiris bawang. Memangnya apa yang sudah kulakukan, sampai-sampai aku seolah menampar mereka. Aku merasa tidak melakukan apa-apa. Seperti paham dengan apa yang kupikirkan, Si pengiris bawang, lagi-lagi melanjutkan serangannya.

“Kau memang tak melakukan apa-apa. Justru karena itu, karena kau tak melakukan apa-apa, kami merasa tertampar olehmu. Seharusnya, sejak tahun lalu, kau sudah harus mengambil sikap.” Ah… aku benar-benar panas dibuatnya.

Ingin rasanya meninggalkan dapur, tempat dimana penyidang, penyerang atau penceramah paling ulung di rumahku, berada. Padahal, belum sampai tujuh menit aku mendengarkan Si pengiris bawang berceramah, tapi rasanya sudah seperti tujuh jam. Melelahkan, apalagi materinya yang terlalu berat juga klise, membuatku serasa ditindih beban berton-ton.

Darah muda, ingin menang sendiri, ingin bebas dari sikap menyudutkan serta tuduhan-tuduhan tak mendasar, sudah mulai bergejolak sejak ceramah Si pengiris bawang dimulai. Tapi mata di depanku yang sedari tadi ikut mendengarkan ceramah klise Si pengiris bawang, lagi-lagi memberi kode lewat kedipan matanya. Aku paham apa yang ingin ia sampaikan.

“Diam saja, tak usah membantah. Bukankah membela diri mati-matian dari hal klise semacam ini, berarti membenarkan tuduhan-tuduhannya.” Ya benar, aku tidak perlu membantahnya. Cukup diam saja.

Jika tetap ngotot membantah Si pengiris bawang, aku sadar, suasana di dapur malam ini, tidak saja akan panas oleh dua buah kompor yang tengah dinyalakan. Aku dan Si pengiris bawang, sama-sama terlahir sebagai orang dengan karakter yang keras. Tapi sebagai calon Diplomat, tentu saja aku harus mampu menahan egoku untuk berteriak, dengan memilih sikap diplomasi yang paling bijak saat ini. Diam.

***

Sidang bermodus ceramah yang berlangsung sejak Maghrib tadi, dipending sementara waktu. Irisan bawang yang telah menyatu dengan tiga butir telur dalam wujud omlet,  juga sayur tumis kangkung, telah siap bersanding dengan nasi yang baru saja kusendok dalam wadah besar.

Uap  panasnya mengepul, diatas wadah stanlees. Panasnya merambat, menjalari buku-buku jari tanganku, lalu panas itu, kemudian  menetap di dalam dadaku. Uap panasnya bisa dilihat dari bagaimana usahaku menahan jengkel, juga sebal. Hanya Piring-piring kaca wadah makan kami  yang menjadi pelampiasan. Piring-piring itu, kubuat beradu diatas meja, ketika kuletakkan dengan tekanan yang luar biasa.

“Kamu ini, dinasihati begitu saja sudah kesal.” Aku sadar baru saja kembali memancing emosi Si pengiris bawang.

Tadinya, kupikir berdemonstrasi mengadu piring-piring itu bisa jadi solusi, untuk menyampaikan perasaanku kepadanya, agar ia mengerti untuk membujukku dengan baik-baik. Sebab, sedari tadi, pengiris bawang terlalu emosional membicarakan topik membosankan sepanjang abad, apalagi bagi para lajang sepertiku. Tapi, ternyata, lagi-lagi aku salah.

“Kau pikir, kami akan secerewet ini jika kau bukan anak kami?. Sadarlah, Usiamu sudah hampir 23 tahun. Teman-teman sekolah dan sebayamu, sebagian besar sudah menggandeng pasangannya masing-masing. Bahkan sebagian dari mereka telah menggendong anak satu-dua. Lalu kamu? Sekedar mengenalkan calonmu saja, belum pernah.” Pengiris bawang itu benar-benar telah mengiris-iris kepercayaan diriku.

“Aku bukannya tidak ingin mengenalkan siapa-siapa kepadamu bu. Tapi sekarang belum waktunya.” Aku mulai bersuara, membela diri.

“Lalu kapan? Menunggu usiamu semakin rawan? Menunggu sampai engkau berhasil mewujudkan cita-citamu itu?.” Emosi ibuku mulai memuncak.

Seseorang yang sejak tadi membersamai kami, mulai angkat suara mengomentari pertanyaan Ibu.

“Sudahlah, kau tak perlu rewel bertanya hal-hal yang sebenarnya sudah diatur oleh Allah SWT.” Ayah membelaku dengan sangat bijak.

“ Ya jodoh memang sudah diatur oleh Allah SWT. Tapi jika tak diusahakan, kapan jodohnya datang?. Anakmu itu terlalu ambisius mengejar cita-citanya yang sebenarnya masih bisa ia gapai walau dengan menikah dulu. Waktunya terlalu ia fokuskan untuk sesuatu yang bersifat material. Untuk apa menjadi seorang Diplomat hebat, jika seumur hidupnya ia habiskan dengan pertanyaan tak berujung.” Semakin emosional, suara Ibu juga semakin meninggi dan mulai menyalahkan hal-hal yang tak perlu dipersalahkan.

Ibuku memang selalu percaya, bahwa jodoh harus diusahakan. Seperti air yang menggenang, tak akan mengalir jika tak dibuatkan jalannya.

Sebenarnya aku maklum dengan sikap Ibu yang berlebihan ini. Kondisi masyarakat Indonesia yang cenderung terlalu banyak ingin tahu, membuat Ibu merasa perlu segera mengingatkanku urusan pendamping hidup sejak semester akhir kuliahku. Tapi sejak dua tahun berjalan, aku tidak pernah menganggap serius pertanyaan-pertanyaan Ibu tentang kekasih atau pun teman dekatku. Bagiku, mimpi menjadi seorang Diplomat, perlu banyak waktu dan perhatian. Aku masih harus banyak mencurahkan perhatianku pada pelajaran-pelajaran diplomasi. Daripada membuang-buang waktu dengan hubungan tak sehat bernama pacaran. Dan bukankah pacaran hanyalah modus, atas nama perkenalan menuju pernikahan, yang dilegalkan oleh pecinta yang terlalu bernafsu dan tak sabaran?

“Ibu tahu, impianmu menjadi seorang Diplomat adalah hal yang begitu kau idam-idamkan sejak dulu. Tapi itu bukan alasan, bahwa kau tak punya sedikit waktu untuk membiarkan seseorang mengenalkan dirinya padamu. Kau tak boleh terus-terusan menjadi kaku dan menutup diri seperti ini. Sudah saatnya kau membuka hati Anandita! Tak mungkin kau terus-terusan menolak seseorang yang datang mendekatimu.” Ibuku, sepertinya memang memahami banyak hal tentangku. Bahkan sesuatu yang tengah kupikirkan.

“Logislah anakku!  Kelak, kau tak akan bisa seterusnya mengandalkan kami sebagai penopangmu diantara segala suka-dukamu. Akan ada saatnya kami pergi. Saudara-saudaramu tak akan bisa selamanya menggenggam tanganmu. Mereka juga akan punya kehidupannya masing-masing. Menikah tidak akan menghalangi mimpimu. Bisa jadi, Allah memberikan rezeky dan jalan yang lebih mudah setelah kau menikah” Suara ibu mulai ia lemahkan, sembari meyakinkanku, bahwa membuka hati dan menikah bukanlah akhir dari perjalanan mimpiku.

Makanan yang kusajikan sejak tadi, mulai dingin bersama ceramah Ibu yang tak lagi sealot tadi. Aku menatap Ibu yang mulai mampu mengatur emosinya. Ada harap yang begitu besar dan sungguh-sungguh, tampak berselancar dalam binar matanya.

“Ibu, maafkan Dita. Dita bukannya tidak ingin menikah. Hanya saja, Dita tak ingin dianggap lupa ingatan dengan memaksakan segala cara untuk bertemu jodoh. Bukankah janji Allah itu pasti, bu?. Lagipula, saat ini, Dita belum dipertemukan dengan seseorang yang tepat. Dita tidak ingin sembarangan menjatuhkan pilihan bu. Ibu juga tak perlu merasa tertampar dengan pertanyaan tetangga, di pesta pernikahan minggu lalu. Ibu harusnya bangga, karena putri Ibu mampu menjaga diri dari hal-hal yang tidak sepatutnya. Dan bukankah memantaskan diri, tidak saja tentang menjaga diri bu?. Tapi juga menambah wawasan. Bukannya Ibu ingin mantu yang pemahaman agamanya baik?  yang pendidikannya bagus? Dari keturunan baik-baik? Itukan limited edition bu? Lagipula, Ibu dari Pria hebat semacam itu, tentu berharap putranya mendapatkan pasangan yang sepadan, kan bu?.” Aku benar-benar memanfaatkan  ketenangan Nyonya Wardoyo, untuk menjelaskan alasan, mengapa putrinya masih sendiri.

Ibu akhirnya mengalah dengan pembelaanku yang tenang. Meski, tidak dengan begitu mudah. Sebab, Ibu masih saja mengingatkanku untuk segera mengenalkannya dengan calon mantu, seperti menu makan malam kami yang harus segera dilahap. ******* selesai

Ahli: Pertanian Indonesia Menyisakan Aktor Tua

 

24 September, sejak Presiden pertama Negara Kesatuan Republik Indonesia yakni Ir. Soekarno memutuskannya sebagai hari tani, maka setiap tahunnya negeri ini memperingati tanggal tersebut sebagai hari tani.

“Perlu tiap-tiap tahun diperingati secara khidmad, dan dirayakan dengan disertai kegiatan-kegiatan serta penyusunan rencana kerja ke arah mempertinggi untuk meningkatkan taraf hidup rakyat tani menuju masyarakat adil dan makmur”. Demikian dinyatakan dalam Keputusan Presiden Republik Indonesia No.169 tahun 1963 tentang Hari Tani.

Setiap tahunnya, Pemerintah dan  jaringan gerakan sosial yang konsen dengan dunia pertanian memperingati hari tersebut dengan berbagai perayaan, baik syukuran, perlombaan hingga penyampaian pandangan terkait kondisi pertanian di seminar-seminar, lokakarya serta diskusi ilmiah yang dilakukan oleh para ahli atau akademisi.

Salah satu akademisi Untad yang konsen dengan bidang pertanian adalah Dr Ir Muh Nursangadji DEA. Melalui suatu kesempatan bersama Media Tadulako, Dr Nursangadji mengungkapkan pandangannya terkait kondisi pertanian indonesia saat ini. Menurut Dosen Fakultas Pertanian Untad ini, pertanian di Indonesia bermasalah dengan banyak hal. Terutama dalam hal kawasan dan pelaku pertanian. Kondisi pertanian di Indonesia mengalami penurunan di dua hal tersebut, sebab lahan pertanian Indonesia setiap tahunnya mengalami penurunan kualitas sekaligus luasan. Serta minimnya minat generasi muda Indonesia, untuk terjun dibidang pertanian.

“ Pertanian di Indonesia memiliki banyak permasalahan. Dua diantaranya adalah terkait kawasan dan aktor. Kita bisa melihat hal tersebut,  Pertama, lahan pertanian kita yang semakin hari mengalami penurunan luasan, karena adanya alih fungsi lahan yang terjadi dimana-mana. Sehingga mau tidak mau, kita mengembangkan yang namanya eksistensifikansi atau perluasan lahan pertanian. Dengan adanya eksistensifikansi atau perluasan lahan pertanian berarti kita akan menebang hutan. Padahal, Hutan merupakan ibu dari pertanian. Forest is a mother of agriculture. Sebab dari hutan-lah daur hidrologi berlangsung atau berjalan. Pertanian tanpa air itu sangat sulit.  Permasalahan kedua, yakni bangsa kita menyisakan para petani tua. Anak-anak muda tidak lagi tertarik dengan dunia pertanian, sebab seperti anekdot yang beredar bahwa petani asing menyekolahkan anak-anak mereka agar kelak kembali membantu usaha pertaniannya, sedangkan petani indonesia menyekolahkan anak-anaknya dengan pesan agar anaknya tidak kembali menjadi petani seperti dirinya.” Terang Alumni Universitas Lyon 3, Prancis tersebut.

Dosen yang merupakan alumni Training Pemberdayaan Masyarakat yang diadakan di Jepang tahun 2004 ini, juga menambahkan bahwa untuk menghadapi problematika pertanian yang diungkapkannya, semua pihak harus mengambil peran untuk memecahkan hal tersebut.

“ Apa yang saya ungkapkan tadi, merupakan tanggung jawab bersama yang harus kita tangani.  Pertama, dengan menjaga  dan menyelamatkan alam. Pertanian di Indonesia harus dibuat menjadi menarik. Sebab jika pertanian di Indonesia menarik, maka diharapkan anak-anak muda yang belajar dibidang pertanian akan terjun dan konsen di bidang tersebut. Salahsatunya dengan membuat mereka melihat pertanian sebagai ladang bisnis atau kerja yang secara tidak langsung, akan membantu perekonomian dirinya dan negara. “ imbuh Pendiri Komunitas AECC.

Mereka yang nantinya berkecimpung di dunia pertanian, diharapkan mampu menciptakan pasar sendiri sehingga kelak, bangsa kita tidak tergantung lagi dengan impor pangan dari luar.

“Sebab Bangsa yang kuat adalah bangsa yang mampu menyelamatkan kedaulatan pertaniannya khususnya dibidang pangan.” Tutup Dr Sangadji.

*EDISI DIBUANG SAYAAAANG. (Udah capek-capek nulis dengan sepenuh hati, udah di php, eh didepak juga dari dapur si mbah :v hhhh penulis curhat)

Aroma Rindu

bbbjxgmceaaqtl5

Lidahku kaku, seperti jari yang tiba-tiba lumpuh diatas hamparan huruf.

Aku bisu dikejar tanya, sedang jawab entah dimana.

Meski, Ibu bilang tak mengapa!

Ayah bilang bersungguh-sungguhlah!

Aku tetap saja seperti di gelung gelisah tak berujung.

Mungkin harus segera.

 

Maka malam-malamku menjadi panjang ditemani kopi.

Mengumpul huruf dengan harap segera menjadi gelar.

Namun tetap saja, ratusan malamku merangkai kata, menyisakan gelisah.

Ada aroma sepi yang menyeruak tiba-tiba dari gelas kopiku.

Mungkin, aku butuh kamu.

Palu untuk Makassar, 24/11/2016

It is Yours Kak Cahid :v

 

 

 

Pengalaman Berharga

3 November 2016. Sore pada kamis yang manis. Bersama pak produser, kami dari tim Creative Moslem Network Sulteng, dapat kesempatan buat silaturahim plus belajar (alias nanya-nanya) mas anggi dan mas mangkil seputar kerjaan mereka di dunia perfilman. Meski acara silaturahim dan belajar kilat kami hanya berlangsung kurang lebih sejam, tapi informasi dan pengetahuan yang kami dapat lumayan banyak dan sangat membekas. Mas mangkil yang ramah dan berpengetahuan luas, bikin saya secara pribadi merasa nyaman bertukar cerita. Pengalaman beliau berkeliling nusantara dan bertemu banyak suku, membuat saya terpacu ingin menjadi menjadikan hobbi saya sebagai pekerjaan. Semoga suatu hari bisa mengikuti jejaknya keliling nusantara dan dunia karena pekerjaan.

Sedang mas anggi yang lebih sedikit pendiam, nyatanya memberi kami banyak petuah dan tak sungkan berbagi cerita pengalamannya hingga ia bisa seperti saat ini. Ada banyak pesan dari mas anggi yang kemudian saya catat dan coba aplikasikan ke dalam kehidupan saya.

Intinya, saya sangat bersyukur diberi kesempatan berkenalan dengan orang besar seperti mereka. Semoga pertemuan kami kala itu adalah langkah awal bagi saya menjadi “singa” seperti yang mas anggi katakan.

“Jika ingin menjadi singa, maka bergaullah dengan singa. Jangan mencari kelinci!”

Maybe they do not realise that they gave us many things. Even, we just discussed around one hour. Yet, I got many information, spirits and inspirations.

Discussing with them is a beautiful or precious experience.

Big thanks to bang Azwar  who person introduced them with us.

Ungkapan Cinta 

Sejauh yang saya ingat, sejak kecil, rasanya tak pernah sekali pun saya melihat atau mendengar orang tua saya saling menyatakan cinta dengan kalimat “Ibu sayang bapak” atau “bapak sayang ibu” atau kalimat “I Love You” dan sebangsanya. Tak pernah!
Tumbuh tanpa pernah melihat kedua orang tua kami mengungkapkan cinta dengan kata-kata, bukan berarti saya dan adik-adik adalah anak-anak yang kurang bahagai atau orang tua kami adalah pasangan yang tidak harmonis. Justru sebaliknya. 

Bapak saya memang seseorang yang ramah dan kadang kala iseng. Tapi jarang sekali bahkan mungkin hampir tak pernah mengungkapkan kalimat cinta di depan kami untuk ibu. Namun di belakang ibu, bapak selalu memuji ibu. 

Ibu apalagi, tak pernah sekalipun mengatakan “I love you” atau “I miss you” kepada bapak. Tapi kami tahu bahwa ibu kami yang tegas dan kaku adalah perempuan yang sebenarnya penuh cinta. Lidahnya boleh saja kaku mengucapkan kalimat mesra, tapi tingkah laku dan perhatiannya justru berbicara banyak. Ibu tidak pernah meninggalkan kami dalam keadaan dapur atau meja makan yang kosong, sekalipun harus pergi dini hari. Ibu selalu memasak makanan terbaik sebelum meninggalkan rumah. Dan karena perhatian ibu yang besar itu, kami selalu merasa beruntung punya ibu seperti beliau. Terlebih bapak yang selalu memuji ibu ketika ibu sedang tak dirumah. Bapak akan selalu bilang “Perhatian ibumu yang seperti inilah yang bikin bapak tidak bisa berpaling selain karena kalian. Di dunia ini, sulit menemukan perempuan seperti ibu yang bisa mengatur dan mengerjakan banyak hal sekaligus, tapi tak pernah lupa menyiapkan keperluan keluarganya.” 
Sedang ibu, rasa cintanya kepada bapak tidak diungkapkan dengan cara seperti bapak. Tapi dengan hal lain yang sederhana namun kami mampu mengerti maknanya. Seperti “itu bantal bapakmu, tolong ditaruh di ranjang, bapak tidak bisa tidur tanpa bantalnya.” Atau “coba telfon bapakmu, kapan pulang.” Kata cinta dan rindu ibu, entah kepada bapak atau pun kami, selalu berubah diksi dan bunyi, tapi kami paham maknanya. 
Jadi, kau paham maksudku kan? 

Cinta itu bukan diksi yang perlu kau sampaikan dalam ucap atau tulis. Tapi perhatian yang ditunjukkan dengan tindakan. Sebab caraku memaknai cinta, tidak seromantis kisah roman yang kerap kutulis. Maka jangan heran jika aku kaku. 

Menikmati Semangkuk Lidah di Tanah Priangan

Hari Aksara International yang dihelat di Kota Palu, pada pertengahan oktober yang baru saja kita tinggalkan, aku membeli ‘Kopi’ dan ‘coto’ dari tangan peracik handal.

Kopi kudapatkan dari tangan Pak Gol A Gong, sedang coto dari tangan Alfian Dippahatang yang dititipkannya lewat kak Imhe Mawar. Keduanya tidak mampu kuhabiskan di sisa oktober. Terlebih kopi yang sulit berdamai dengan lambungku juga otakku. Coto juga begitu, meski pernah bertahun-tahun lamanya tidak ingin kunikmati lagi, namun godaan coto dalam varian baru karya sastrawan makassar, membuatku tergoda untuk segera menikmatinya di penghujung oktober dan baru mampu kulahap habis dilembar pertama kalender november.

Tenang saja! Coto racikan Alfian Dippahatang tidak akan pernah basi digilas putaran jarum jam dan sobekan kertas kalender. Sebab peraciknya cerdas membuat coto dalam ‘Semangkuk Lidah’ dapat bertahan lama tanpa batas waktu expired.

Aku menikmati cotoku di Tanah Priangan, diantara dinginnya kabut sukabumi. Ternyata beda rasanya menikmati coto, bukan di tanah leluhurku. Disini, aku jadi merindukan masakan ibu di rumah serta petuah-petuah bapak. Tidak salah jika kukatakan bahwa peracik coto dalam ‘Semangkuk Lidah’ adalah peracik cerdas dan perasa. Racikannya seperti pengalaman pribadi yang ditransfernya kehati setiap penikmat coto racikannya.

Saat menikmati coto dalam ‘Semangkuk Lidah’. Pikiranku selalu melayang ke tanah rantau, tempat Ibu Bapak berada. Aku mengingat kenangan di dapur bersama ibu, juga usaha bapak mengokohkan kakiku dan kaki adik-adikku agar mampu melangkah jauh, melewati tanah leluhur kami. Alfian memancing tabungan kenangan itu bermunculan satu persatu. Dijadikannya Sapi Bali dan Sapi Peliharaan Ayah sebagai bahan pemancing rasa. Jangan tanya aku menangis atau tidak! Sebab kalian tentu sudah bisa menebak.

Racikan Alfian Dippahatang kaya akan rasa. Bukan hanya tangis haru dan sedih yang kau rasakan, ada perasaan penasaran dan tertohok pada setiap ‘sendok’ coto yang kunikmati, serta perasaan bahagia karena rasa romansa yang tidak berlebihan. Manis dan nagih. Intinya, rasa racikan Alfian Dippahatang, pas dan enak.

Jika kau penasaran dan ingin bertanya adakah kurangnya? aku hanya bisa bilang:

“Aku hanya penikmat.

Jika engkau mempertanyakan

Bahan dan segala macam.

Sebaiknya, engkau temui saja “

Alfian Dippahatang dan segeralah memesan coto padanya.

Sebelum perpisahan yang kita namai libur datang dan berganti dengan racikan baru.

Sukabumi, 1 November 2016

*Aku menanti hadirnya racikan baru di mejaku 🙂